Showing posts with label pendidikan SD. Show all posts
Showing posts with label pendidikan SD. Show all posts

Friday, 28 October 2016

EFEKTIFKAH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITERAPKAN DI SEKOLAH DASAR?

Sebelum menjawab pertanyaan terhadap judul post di atas alangkah bagusnya kalau kita terlebih dahulu menjawab pertanyaan "apa yang dimaksud dengan model pembelajaran jigsaw?". 
 Image result for model pembelajaran jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif  yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan meteri tersebut kepada anggota kelompok yang lain.
 
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diu jicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001:78). Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson sebagai metode pembelajaran kooperatif. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang lebih banyak melibatkan interaksi aktif antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru maupun siswa dengan lingkungan belajarnya. Siswa belajar bersama-sama dan memastikan bahwa setiap anggota kelompok telah benar-benar menguasai materi yang sedang dipelajari. Keuntungan yang bisa diperoleh dari penerapan pembelajaran kooperatif ini yaitu siswa dapat mencapai hasil belajar yang bagus karena pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar.  

Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain . Dengan demikian siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan. Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran yang di tugaskan kepada mereka. Kemudian siswa –siswa itu kembali pada tim atau kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.

untuk lebih lengkapnya tentang model pembelajaran jigsaw silakan klik disini   


dari pengertian tentang model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di atas dapat disimpulkan bahwa model kooperatif menuntut keaktifan, kerja sama dan pemahaman siswa yang ekstra agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. selain itu, paham tidaknya siswa tergantung cara penyampaian dari tim ahi {kelompok ahli). dapat dilihat pada gambar berikut :
Image result for model jigsaw
untuk dapat menjawab pertanyaan EFEKTIFKAH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITERAPKAN DI SEKOLAH DASAR? itu sebenarnya tergantung sekolah, siswa, lingkungan kerja masing-masing. untuk sekolah yang ada di perkotaan mungkin model jigsaw "efektif" digunakan dalam pembelajaran. tapi menurut pandangan penulis, di beberapa tempat model pembelajaran jigsaw malah tidak efektif digunakan dalam pembelajaran. karena dari pengalaman pribadi dan cerita teman sejawat untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di tempat penulis rata-rata siswa masih menerapkan budaya "malu" untuk berbicara. budaya malu tersebut membuat kegiatan pembelajaran cenderung kurang aktif yang  bertolak belakang dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yang menuntut siswa untuk aktif. Padahal penulis sebagai guru kelas sudah mencoba beberapa alternatif agar siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran. kemungkinan karena kemampuan guru yang belum profesional dalam melakukan kegiatan pembelajaran (penulis baru satu tahun menjadi pengajar). atau mungkin juga karena pengaruh dari lingkungan sehari-hari siswa tersebut.

jadi untuk menjawab pertanyaan EFEKTIFKAH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITERAPKAN DI SEKOLAH DASAR? jawabannya adalah tergantung dari beberapa faktor seperti siswa, guru, lingkungan sekolah, dan lingkungan luar sekolah.

bagi teman-teman yang ingin menambahkan jawaban atas pertanyaan di atas ataupun ingin membantu penulis untuk membuat siswa menjadi aktif silakan ditambahkan lewat kolom komentar. terima kasih

penulis  : agus sardi, S. Pd 
sumber : model pembelajaran mukhlis
Baca lanjutannya - EFEKTIFKAH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DITERAPKAN DI SEKOLAH DASAR?

Sunday, 7 February 2016

Kelebihan dan Kekurangan Mesin Absensi Sidik Jari (Fingerprint)

Salah satu indikator baik tidaknya kinerja guru dapat dilihat dari kehadirannya di tempat mengajar. Untuk memantaunya, biasanya digunakan daftar presensi atau absensi guru. Belakangan ini tersiar kabar di lingkup pemerintahan Kabupaten Tabalong akan menggunakan presensi/finger print/sidik jari elektronik. Bahkan beberapa hari kemarin sudah ada surat edaran tentang pengadaan fingerprint oleh sekolah (secara swadaya).

Kali ini kami akan membahas kelebihan dan kekurangan  dari Mesin Absensi Sidik Jari/Fingerprint yang kami kumpulkan dari berbagai sumber. Tapi sebelum kita membahas kelebihan dan kekurangannya, kita harus terlebih dahulu mengetahui apa itu mesin absensi sidik jari.

Mesin absensi sidik jari adalah mesin absensi dengan mendeteksi sidik jari untuk mendata kehadiran karyawan. Sidik jari adalah ciri unik pada bagian tubuh manusia yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Saudara kembar bahkan memiliki bentuk dan sidik jari yang berbeda pula. Karena banyaknya kelemahan mesin absensi manual kemudian penemu teknologi mulai menciptakan mesin absensi yang mendeteksi gambar dan pola sidik jari. Penggunaan jenis mesin absensi sidik jari mulai banyak digunakan sejak tahun 1997

Sebuah sistem absensi dibuat untuk mempermudahkan pendataan kehadiran karyawan. Absensi sidik jari, sistem yang dibuat untuk meminimalisir kecurangan dan meningkatkan kedisiplinan.
Kelebihan dari pada mesin absensi sidik jari ini antara lain adalah sebagai berikut :
  • Data absensi langsung masuk ke komputer, bisa langsung di olah guna pembuatan laporan
  • Penggunaanya yang praktis dan simpel. Karyawan dapat langsung mengabsen dan membuktikan kehadirannya dengan cara menempelkan salah satu jari atau seluruh jari tangannya pada layar/monitor yang telah tersedia pada mesin absensi.
  • Tidak memungkinkan penitipan presensi maupun pemalsuan sidik jari. Baik di palsukan dengan fotokopi sidik jari atau sidik jari tiruan.
  • Harga yang relatif lebih murah di banding sistem absensi biomterik bahkan sistem absensi dengan kartu atau kertas lainnya.
  • 6.Meningkatkan produktifitas suatu lembaga, menjadi pemicu karyawan untuk hadir tepat waktu dan kehadirannya tidak fiktif.
  • Mesin absensi sidik jari dapat menampung kapasitas data yang sangat besar. Hal ini sangat menguntungkan karena tidak perlu lagi pengunaan kartu absensi manual yang memakan banyak biaya.
Sedangkan Kekurangan dari mesin absensi sidik jari ini adalah :
Pada umumnya, mesin absensi sidik jari memiliki kekurangan pada proses pendeteksian dan pendataan sidik jari karyawan tersebut. Mesin jenis ini cenderung mengalami error atau proses yang lambat apalagi jika sidik jari yang sedang dideteksi dalam kotor, basah, atau berkeringat. Dengan kata lain, mesin absensi fingerprint sangat sensitif. Error atau masalah seperti ini bisa saja membawa dampak buruk pada kondisi mesin itu sendiri maupun produktivitas perusahaan (karena lambatnya pemrosesan absensi karyawan).
Sistem mesin absensi sidik jari memerlukan proses registrasi atau pendataan terlebih dahulu. Pada saat proses scan sidik jari data akan dimasukkan ke dalam sistem beserta identitas karyawan lainnya seperti nomor dan nama. Setelah proses registrasi, mesin telah dapat digunakan untuk absensi karyawan cukup dengan menempelkan jari yang digunakan pada saat registrasi pada layar scan yang telah tersedia. Selanjutnya software absensi karyawan pada mesin tersebut akan memproses dan menyimpan data. Output data dapat dilihat dengan menggunakan komputer oleh bagian HRD untuk memantau absensi karyawan.

kiranya cukup sekian dulu yang dapat kami share pada kesempatan ini, berhubung di tempat kami belum menggunangan fingerprint, kami belum bisa menshare kelebihan dan kekurangan absensi dengan menggunakan fingerprint tersebut. Semoga program-program tersebut bisa terealisasi dan bermanfaat bagi dunia pendidikan umumnya pemerintahan Kabupaten Tabalong. Amien...
Baca lanjutannya - Kelebihan dan Kekurangan Mesin Absensi Sidik Jari (Fingerprint)

Saturday, 10 December 2011

Pendidikan IPS di Sekolah Dasar

Mata pelajaran IPS diajarkan kepada siswa sekolah dasar untuk mencapai beberapa tujuan. Tujuan tersebut meliputi, pertama diharapkan siswa mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya, kedua memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis, kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial, ketiga memiliki komitmen dan kesadaran tehadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, dan keempat memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan berkompetensi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasioal, dan global (Depdiknas, 2006:1).

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (=kongkrit), dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (=abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD.

Berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Bruner (1978) memberikan pemecahan berbentuk jembatan bailey untuk mengkongkritkan yang abstrak itu dengan enactive, iconic, dan symbolic melalui percontohan dengan gerak tubuh, gambar, bagan, peta, grafik, lambang, keterangan lanjut, atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat dipahami siswa. Itulah sebabnya IPS SD bergerak dari yang kongkrit ke yang abstrak dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas (expanding environment approach) dan pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari yang dekat ke yang jauh, dan seterusnya : dunia-negara tetangga-negara-propinsi-kota/kabupaten-kecamatan-kelurahan/desa-RT/RW-tetangga-keluarga-Aku.

Pola Pendekatan Lingkungan yang Semakin Meluas
Pembelajaran IPS SD akan dimulai dengan pengenalan diri (self), kemudian keluarga, tetangga, lingkungan RT, RW, kelurahan/desa, kecamatan, kota/kabupaten, propinsi, negara, negara tetangga, kemudian dunia. Anak bukanlah sehelai kertas putih yang menunggu untuk ditulisi, atau replika orang dewasa dalam format kecil yang dapat dimanipulasi sebagai tenaga buruh yang murah, melainkan, anak adalah entitas yang unik, yang memiliki berbagai potensi yang masih latent dan memerlukan proses serta sentuhan-sentuhan tertentu dalam perkembangannya. Mereka yang memulai dari egosentrisme dirinya kemudian belajar, akan menjadi berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas, dan mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk intervensi dalam dunianya.

Pendidikan IPS dalam Struktur Program Kurikulum (KBK) SD
Pendidikan IPS SD disajikan dalam bentuk synthetic science, karena basis dari disiplin ini terletak pada fenomena yang telah diobservasi di dunia nyata. Konsep, generalisasi, dan temuan-temuan penelitian dari synthetic science ditentukan setelah fakta terjadi atau diobservasi, dan tidak sebelumnya, walaupun diungkapkan secara filosofis. Para peneliti menggunakan logika, analisis, dan keterampilan (skills) lainnya untuk melakukan inkuiri terhadap fenomena secara sistematik. Agar diterima, hasil temuan dan prosedur inkuiri harus diakui secara publik (Welton and Mallan, 1988 : 66-67).
Tema-tema IPS SD yang Perlu Mendapat Perhatian Secara gradual, di bawah ini akan diungkapkan beberapa tema IPS SD yang perlu mendapat perhatian kita bersama, antara lain :
1. IPS SD sebagai Pendidikan Nilai (value education), yakni :
  • Mendidikkan nilai-nilai yang baik yang merupakan norma-norma keluarga dan masyarakat;
  • Memberikan klarifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki siswa;
  • Nilai-nilai inti/utama (core values) seperti menghormati hak-hak perorangan, kesetaraan, etos kerja, dan martabat manusia (the dignity of man and work) sebagai upaya membangun kelas yang demokratis.
2. IPS SD sebagai Pendidikan Multikultural (multicultural eduacation), yakni
  • Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar;
  • Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya bangsa;
  • Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap kelompok etnik atau minoritas.
3. IPS SD sebagai Pendidikan Global (global education), yakni :
  • Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan peradaban di dunia;
  • Menanamkan kesadaran ketergantungan antar bangsa;
  • Menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar bangsa di dunia;
  • Mengurangi kemiskinan, kebodohan dan perusakan lingkungan.
Baca lanjutannya - Pendidikan IPS di Sekolah Dasar

Wednesday, 7 December 2011

Model Pembelajaran Make A Match

Guru sering menemukan masalah di dalam kelas, baik yang berkaitan dengan siswa, metode, media, atau hasil belajar siswa yang selalu rendah. Berkaitan dengan permasalahan di atas maka sudah seharusnya guru berusaha mengatasi masalah-masalah tersebut agar tujuan pembelajaran tercapai. Kunandar (2008: 63) mengemukakan bahwa guru dapat memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan model Make a Match.

Model pembelajaran Make – A Match (Mencari Pasangan) dikembangkan oleh Lorna Curran (Jumadi,2009). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

Langkah-langkah model pembelajaran Make A Match:
  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk seri review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
  2. Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu.
  3. Setiap siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.
  4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
  6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapatkan kartu berbeda dan sebelumnya. Demikian seterusnya.
  7. Penutup (Depdiknas, 2006).
Suyatno (2009: 121) juga menyebutkan langkah-langkah model pembelajaran Make A Match sebagai berikut.
  1. guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk seri review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
  2. setiap siswa mendapat satu buah kartu
  3. tiap siswa memikirkan pasangan yang mempunyai kartu yang dipegang
  4. setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
  5. setiap siswa yang yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu yang ditetapkan diberi poin
  6. setelah satu babak kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
  7. kesimpulan.
Langkah-langkah pelaksanaannya dimulai dari guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
Kartu tersebut ditempel di karton, agar bentuknya lebih baik dapat ditulis pada kertas berwarna, sehingga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar IPS. Setiap siswa mendapat satu buah kartu dan diminta untuk memikirkan jawaban/soal dari karu yang dipegang. Kemudian setiap siswa mencari pasangan yang cocok dengan kartunya. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi point. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumya, demikian seterusnya. Bila kita cermati cara pembelajaran semacam ini akan melatih siswa untuk selalu berfikir kritis dan selalu berusaha untuk mencari jawaban atas permasalahan dalam pembelajaran. Hal ini sangat sesuai dengan dasar pemikiran yang dikemukakan Jean Piaget tentang teori kontoktivisme (Nurhadi, 2004: 36) yang mengatakan bahwa pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Senada dengan itu, Holil mengemukakan dalam http://pkab.wordpress.com/2008/04/23/teori-belajar-kontruktivisme/: bahwa :
“setiap prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun diri sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untutk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut”.

Di samping itu kelebihan model pembelajaran ini adalah melatih ketelitian, kecermatan, ketepatan, dan kecepatan. Kekurangan model pembelajaran ini adalah waktu yang cepat dan kurang konsentrasi. Sedangkan kelemahan dari metode ini ialah jika kelas anda termasuk kelas gemuk (lebih dari 30 0rang/kelas) berhati-hatilah. Karena jika anda kurang bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali. Tentu saja kondisi ini akan mengganggu ketenangan belajar kelas di kiri kanannya. Apalagi jika gedung kelas tidak kedap suara. Tapi jangan khawatir. Hal ini dapat diantisipasi dengan menyepakati beberapa komitmen ketertiban dengan siswa sebelum ‘pertunjukan’ dimulai. Pada dasarnya menendalikan kelas itu tergantung bagaimana kita memotivasinya pada langkah pembukaan. Sedangkan sisi kelemahan yang lain ialah mau tidak mau kita harus meluangkan waktu untuk mempersiapkan kartu-kartu tersebut sebelum masuk ke kelas.
Baca lanjutannya - Model Pembelajaran Make A Match
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...